Tampilkan postingan dengan label PUISI SUFISTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI SUFISTIK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2011

Kearifan Cinta ~ Jalaluddin Rumi

Cinta yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.

Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang yang
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.

Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.

~ Jalaluddin Rumi

Senin, 25 Oktober 2010

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

By: WS. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.


Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.


Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.


Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.


Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.


Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.


Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.


Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.



bagaimana sang magister membaca dunia...
menumpahkannya dalam kata-kata indah hingga jadi karya sebagai referensi renungan kita

mari bekajar pahami dunia
ciptakan karya
nulis yuuuukkkk!!!

Jumat, 22 Oktober 2010

laskar pemimpi

ketika

semua harapan ........

hanya jadi impian

yang tak kunjung tiba.....
akankah kita berhenti

untuk bermimpi???
jangan kawan........!!!!
bermimpilah selalu!

jangan pernah putus asa!
dengan mimpimu,

kau akan berharga,

kau mampu

menembus

batas- batasmu.....



vanera el_arj
201010

Kamis, 14 Oktober 2010

syair sang Robi'ah.....

begitulah sang robi'ah sakro....
cinta dan kerinduan yang begitu mendalam tersirat dalam syair-sayirnya...


Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

2
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

3
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

4
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

5
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu

6
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

7
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu

8
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

9
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia


141010

Jumat, 08 Oktober 2010

edane zaman



wkakakwkwkwkwkw..................
penjajah hak asasi manusia tinggal di istana permata
ibu rumah tangga jadi kepala negara
perut- perut buncit menguasai rimba
laras senjata setiap saat di depan setiap mata
yang namanya sejahtera entah lari kemana
wkukukwkwkwkwkwk....................
orang mati memimpin negeri
monyet2 berpeci mengaku suci
membohongi rakyat tak henti2
yang jujur dan lurus dibilang anomali
kadang berakhir dengan bui atau mati
hihihihihihihi

hwahwahahahahaha................
orang dungu mengaku berilmu
berkoar2 tak tahu malu
menjual ayat demi segepok doku
memenggal kepala agar semua orang setuju
dasar penipu, satu tambah satu dibilang tuju
Haha...hihi...huhu
Di tanah gemah ripah loh jinawi
mestinya dibangun lebih panti
untuk orang orang yang tak lagi punya harga diri
dimana semua anggota dewan dikarantina
dimana semua calon birokrat disuruh kerja paksa
dimana semua tentara diwajibkan memakai beha
belum boleh keluar sebelum sembuh dari gila
dan saya sebagai orang gila yang memang gila
ongkang2 sambil tertawa2.........





"................"
08-10-10

Kamis, 23 September 2010

matamu masih lesatkan sinar


tergelanyuti bayangmu...
hanyalah aku bisa hadir dalam ruang kosongku

serba serbi kabarmu
sejak mentari dhuha
tak lagi terdengar di telinga

matamu masih lesatkan sinar tatap dimataku
auramu terasa menjelma sentuhan bayu
menemani dan mewarnai tafakur kehilanganku

aku menginginkan hadirmu menjadi
seperti pagi
dengan mentari dan mekar melati

seperti embun
dengan sejuta sejuk

sebagai puisi iftirosy pencarian
sepenuh kefanaan

vanera el_arj
wonoyoso.19.09.2007

Rabu, 22 September 2010

syair Maulana Rumi


salam sastra bung....

bagaimanapun kita tak bisa pungkiri islam adalah agama yang begitu menghargai keindahan,,,
dalam bidang apapun...
salah satunya dalam sastra, terbukti sang rumi mengolah kata-kata hatinya teruntuk sang (kekakasihnya)
begitu anggun,,,,

nah pengen ngerti kan siapa sebenarnya rumi???
dan gimna rumi bersajak???
simak ni sedikit aja ga usah banyak- banyak,,,,ntar malah mabok kalo kebanyakan,,,,hehehehe


Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.



Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.



Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.



Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.



Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.



Tak ada makhluk hidup didunia ini yang kekal, dan semuanya pasti akan kembali kepada-Nya. Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.



Kala kucari damai,
Dialah penolong sejati
Kala kupergi berperang,
Belati, itulah dia;
Kala kupergi ke pertemuan,
Dialah anggur dan manisan
Kala aku ke taman,
Keharuman, itulah dia.
Kala aku ke pertambangan,
Dialah batu delima di sana
Kala aku menyelam di lautan,
Dialah mutiara
Kala aku ke gurun,
Dialah taman di sana
Kala aku ke langit,
Dialah bintang terang
Kala kutulis surat
Ke sahabat-sahabat tercintaku
Kertas dan tempat tinta,
Tinta, pena, itulah dia
Kala kutulis syair,
Dan kucari kata bersajak
Yang membentangkan sajak-sajak,
Dalam pikiranku, itulah dia!

Hidup adalah perjalanan yang mengakibatkan keterpisahan demi kemanunggalan:

Duhai, kalau pohon bisa berkelana
Dan bergerak dengan kaki dan sayap!
Tentu ia tak akan menderita karena ayunan kapak
Juga tak akan merasakan pedihnya gergaji!
Karena kalau mentari tidak berkelana jauh
Menembus malam
Mana mungkin setiap pagi
Dunia akan cerah ceria?
Bila air samudra
Tidak naik ke langit
Mana mungkin tumbuh-tumbuhan akan tersuburkan
Oleh irigasi dan hujan yang lembut?
Tetes air yang meninggalkan negerinya,
Samudera, dan lalu kembali
Mendapati tiram sedang menanti
Dan tumbuh menjadi mutiara

Tidakkah Yusuf meninggalkan ayahnya,
Dalam sedih dan air mata dan putus asa?
Tidakkah lewat perjalanan itu
Dia peroleh kerajaan dan kemenangan?
Tidakkah Nabi pergi
Ke Madinah yang jauh, sobat?
Di sana didapatinya kerajaan baru
Dan perintahnya seratus negeri
Kalau tak punya kaki untuk berkelana,
Berkelanalah ke dalam dirimu,
Dan bak tambang batu delima
Terima jejak sinar mentari!
Perjalanan seperti itu
Akan membawa dirimu,
Mengubah debu jadi emas murni!
Tinggalkan pahit dan cuka,
Pergilah ke manis!
Sebab air laut pun membuahkan
Seribu jenis buah
Matahari Tabriz itulah
Yang menampilkan karya amat bagus itu,
Karena pohon jadi indah
Kala disentuh mentari.


Dan inilah syair doa yang mencerminkan ketakjuban yang tak kunjung henti terhadap Tuhan Yang Maha Agung:

Jika Dikau tak karuniakan jalan,
Ketahuilah bahwa jiwa pasti tersesat:
Jiwa yang hidup tanpa-Mu
Anggaplah itu mati!
Jika Dikau perlakukan dengan buruk hamba-hamba-Mu,
Jika Dikau mencerca mereka, Tuhan,
Dikaulah Raja – tak soal
Apa pun yang Dikau lakukan,
Dan jika Dikau menyebut matahari,
Rembulan indah itu “kotor”
Dan jika Dikau katakana si “jahat”
Adakah rampingnya cemara nun di sana itu,
Dan jika Dikau katakana Takhta
Semua alam itu “rendah”
Dan jika Dikau sebut lautan
Dan tambang emas “fakir lagi miskin”
Itu sah saja,
Sebab Dikaulah Yang Maha Sempurna:
Dikaulah satu-satunya yang mampu
Menyempurnakan segala yang fana!


nah udahkan???
dach mudeng???
kalo belum simak lagi di episode yang selanjutnya,,,,


salam sastra bung....

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger