Kamis, 14 Oktober 2010

syair sang Robi'ah.....

begitulah sang robi'ah sakro....
cinta dan kerinduan yang begitu mendalam tersirat dalam syair-sayirnya...


Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

2
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

3
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

4
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

5
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu

6
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

7
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu

8
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

9
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia


141010

Sabtu, 09 Oktober 2010

8 kebohongan ibu


temen-temen..... aku pengen bagi artikel ini.....artikel ini aku dapat dari pesen fb aku dari temen.......pertama sih aku biasa aja,,,, tapi setelah aku baca sampai selesai aku baru nyadar bahwa artikel itu tlah buat aku menangis.....bahkan aku pengin cepet- cepet pulang....
langsung ajah temen temen baca ndiri ya......



Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.



Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita ini di kutip dari kisah seorang pemuda.

” Aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :

“Makanlah nak, aku tidak lapar” ——— KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya.

Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.

Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata: “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ——— KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.

” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian.Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :

“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah.Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata:

“Saya tidak butuh cinta” ——— KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :

“Saya punya uang” ——— KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah Universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.Tetapi ibu yang baik hati bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkatakepadaku :

“Aku tidak terbiasa” ——— KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :

“jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ——— KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. “

—ooOOOoo—
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu, dan terimakasih ayah ! “Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibukita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?

Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas, apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Cemas, apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” dikemudian hari.



"taufik karim amrullah"

Jumat, 08 Oktober 2010

edane zaman



wkakakwkwkwkwkw..................
penjajah hak asasi manusia tinggal di istana permata
ibu rumah tangga jadi kepala negara
perut- perut buncit menguasai rimba
laras senjata setiap saat di depan setiap mata
yang namanya sejahtera entah lari kemana
wkukukwkwkwkwkwk....................
orang mati memimpin negeri
monyet2 berpeci mengaku suci
membohongi rakyat tak henti2
yang jujur dan lurus dibilang anomali
kadang berakhir dengan bui atau mati
hihihihihihihi

hwahwahahahahaha................
orang dungu mengaku berilmu
berkoar2 tak tahu malu
menjual ayat demi segepok doku
memenggal kepala agar semua orang setuju
dasar penipu, satu tambah satu dibilang tuju
Haha...hihi...huhu
Di tanah gemah ripah loh jinawi
mestinya dibangun lebih panti
untuk orang orang yang tak lagi punya harga diri
dimana semua anggota dewan dikarantina
dimana semua calon birokrat disuruh kerja paksa
dimana semua tentara diwajibkan memakai beha
belum boleh keluar sebelum sembuh dari gila
dan saya sebagai orang gila yang memang gila
ongkang2 sambil tertawa2.........





"................"
08-10-10

Kamis, 23 September 2010

matamu masih lesatkan sinar


tergelanyuti bayangmu...
hanyalah aku bisa hadir dalam ruang kosongku

serba serbi kabarmu
sejak mentari dhuha
tak lagi terdengar di telinga

matamu masih lesatkan sinar tatap dimataku
auramu terasa menjelma sentuhan bayu
menemani dan mewarnai tafakur kehilanganku

aku menginginkan hadirmu menjadi
seperti pagi
dengan mentari dan mekar melati

seperti embun
dengan sejuta sejuk

sebagai puisi iftirosy pencarian
sepenuh kefanaan

vanera el_arj
wonoyoso.19.09.2007

Rabu, 22 September 2010

syair Maulana Rumi


salam sastra bung....

bagaimanapun kita tak bisa pungkiri islam adalah agama yang begitu menghargai keindahan,,,
dalam bidang apapun...
salah satunya dalam sastra, terbukti sang rumi mengolah kata-kata hatinya teruntuk sang (kekakasihnya)
begitu anggun,,,,

nah pengen ngerti kan siapa sebenarnya rumi???
dan gimna rumi bersajak???
simak ni sedikit aja ga usah banyak- banyak,,,,ntar malah mabok kalo kebanyakan,,,,hehehehe


Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.



Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.



Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.



Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.



Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.



Tak ada makhluk hidup didunia ini yang kekal, dan semuanya pasti akan kembali kepada-Nya. Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.



Kala kucari damai,
Dialah penolong sejati
Kala kupergi berperang,
Belati, itulah dia;
Kala kupergi ke pertemuan,
Dialah anggur dan manisan
Kala aku ke taman,
Keharuman, itulah dia.
Kala aku ke pertambangan,
Dialah batu delima di sana
Kala aku menyelam di lautan,
Dialah mutiara
Kala aku ke gurun,
Dialah taman di sana
Kala aku ke langit,
Dialah bintang terang
Kala kutulis surat
Ke sahabat-sahabat tercintaku
Kertas dan tempat tinta,
Tinta, pena, itulah dia
Kala kutulis syair,
Dan kucari kata bersajak
Yang membentangkan sajak-sajak,
Dalam pikiranku, itulah dia!

Hidup adalah perjalanan yang mengakibatkan keterpisahan demi kemanunggalan:

Duhai, kalau pohon bisa berkelana
Dan bergerak dengan kaki dan sayap!
Tentu ia tak akan menderita karena ayunan kapak
Juga tak akan merasakan pedihnya gergaji!
Karena kalau mentari tidak berkelana jauh
Menembus malam
Mana mungkin setiap pagi
Dunia akan cerah ceria?
Bila air samudra
Tidak naik ke langit
Mana mungkin tumbuh-tumbuhan akan tersuburkan
Oleh irigasi dan hujan yang lembut?
Tetes air yang meninggalkan negerinya,
Samudera, dan lalu kembali
Mendapati tiram sedang menanti
Dan tumbuh menjadi mutiara

Tidakkah Yusuf meninggalkan ayahnya,
Dalam sedih dan air mata dan putus asa?
Tidakkah lewat perjalanan itu
Dia peroleh kerajaan dan kemenangan?
Tidakkah Nabi pergi
Ke Madinah yang jauh, sobat?
Di sana didapatinya kerajaan baru
Dan perintahnya seratus negeri
Kalau tak punya kaki untuk berkelana,
Berkelanalah ke dalam dirimu,
Dan bak tambang batu delima
Terima jejak sinar mentari!
Perjalanan seperti itu
Akan membawa dirimu,
Mengubah debu jadi emas murni!
Tinggalkan pahit dan cuka,
Pergilah ke manis!
Sebab air laut pun membuahkan
Seribu jenis buah
Matahari Tabriz itulah
Yang menampilkan karya amat bagus itu,
Karena pohon jadi indah
Kala disentuh mentari.


Dan inilah syair doa yang mencerminkan ketakjuban yang tak kunjung henti terhadap Tuhan Yang Maha Agung:

Jika Dikau tak karuniakan jalan,
Ketahuilah bahwa jiwa pasti tersesat:
Jiwa yang hidup tanpa-Mu
Anggaplah itu mati!
Jika Dikau perlakukan dengan buruk hamba-hamba-Mu,
Jika Dikau mencerca mereka, Tuhan,
Dikaulah Raja – tak soal
Apa pun yang Dikau lakukan,
Dan jika Dikau menyebut matahari,
Rembulan indah itu “kotor”
Dan jika Dikau katakana si “jahat”
Adakah rampingnya cemara nun di sana itu,
Dan jika Dikau katakana Takhta
Semua alam itu “rendah”
Dan jika Dikau sebut lautan
Dan tambang emas “fakir lagi miskin”
Itu sah saja,
Sebab Dikaulah Yang Maha Sempurna:
Dikaulah satu-satunya yang mampu
Menyempurnakan segala yang fana!


nah udahkan???
dach mudeng???
kalo belum simak lagi di episode yang selanjutnya,,,,


salam sastra bung....

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger